Penulis: Anton Ahmad Sogiri, S.H.
Senin malam, 24 Februari 1986, Lewoleba masih menyisakan riuhnya pasar di bawah cahaya purnama. Orang-orang dari Lembata, Solor, dan Adonara pulang membawa hasil dagangan, menutup hari dengan harapan sederhana, kembali ke rumah bertemu keluarga. Tidak ada yang benar-benar menyadari bahwa malam itu akan menjadi batas antara hari yang berjalan biasa dengan hari yang mendatangkan duka.
Menjelang subuh, pelabuhan dipenuhi langkah-langkah tergesa, penumpang, barang bawaan dan doa-doa lirih menyatu. Seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Larantuka membawa gelombang masa yang tidak biasa. Kapal-kapal motor berbaris menunggu penumpang, dan di antaranya KM Sahabat II berdiri dengan lambung yang siap mengantarkan asa dan harapan, tampak seperti kapal lain pada umumnya. Februari memang dikenal sebagai bulan laut yang keras, ombak tinggi dan arus kuat bukan hal asing, tetapi seperti banyak pagi sebelumnya, harapan lebih sering mengalahkan kekhawatiran.
Perjalanan itu dimulai seperti biasa, hingga laut di perairan Longot menunjukkan wajahnya yang sedang tidak baik-baik saja. Gelombang dan arus bertemu dalam kekuatan yang tak memberi banyak ruang bagi manusia untuk bersiap dengan apa yang akan dihadapinya. KM Sahabat II terombang-ambing, dihantam gelombang demi gelombang. Tidak butuh waktu lama, suasana berubah. Canda tawa yang masih hangat diterangi purnama semalam perlahan mendingin dan berubah menjadi tangisan. Doa-doa yang tadi berbisik menjadi teriakan “Tuhan, tolong selamatkan kami”. Kapal itu oleng, lalu hilang ditelan perairan Longot yang dikenal memiliki arus kuat di bawah permukaannya.

